BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Pesan saya

Tidak ada rahasia untuk sukses Ini adalah hasil dari persiapan, kerja keras dan belajar dari kegagalan.

MP3 Player





Sabtu, 24 Desember 2011

Dangdut Etnic & Grass Root Music


Mengistilahkan sebagai musik akar rumput pada jenis musik ini mengungkapkan betapa dangdut bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Mendekatkan dangdut pada sosio kultur kehidupan rakyat wong cilik adalah prinsip yang mutlak di pegang oleh sebagian besar masyarakat kita. Ketika bertandang ke Pub Amerika, lalu ditanya, “whats music of ur country?”, Anda tak mungkin menjawab, Hip hop, Pop, atau Reggae, kecuali ada keangkuhan di hati, atau otak anda miring setengah waras. Jawabnya “dangdut is the music of my country”,jelas dan mengena. Mau atau tidak mau, yah begitulah adanya. Ini jika anda ber_WNI.

Bagi sejumlah orang, Dangdut tetap ingin diletakkan pada posisi marginal dalam kancah heterogenitas music tanah air. Entah mengapa, sedari awal pemosisian ini telah coba ditanam kuat. Missal, dangdut itu identik dengan layar tancap, dulu film-film Rhoma diputar di acara sedekahan desa, atau 17an. Dangdut adalah music wajib di terminal-terminal, warung-warung kaki lima hingga yang remang-remang. Dangdut cocok untuk iklan obat gosok, masuk angin, atau iklan layanan masyarakat_KBS_kalangan bawah sekali. Sebagain besar pengamen ibu kota menyanyikan lagu dangdut di Bus2, KA, Angkot, Lamongan, atau emperan. Pun bila anda suka dangdut, teman-teman lain akan senyum simpul_sembari tertawa. “Katro ni orang,” meminjam istilah Tukul Arwana.

Dangdut adalah bagian dari sebuah tema masyarakat KBS. Anggapan sebagian besar orang, Ia tak cocok ditempatkan atau disejajarkan dengan jenis hip hop, dkk yang belakangan hadir di permusikan tanah air. Padahal, selain dangdut, anda bisa mendengar Peterpan, Radja, Dewa, Mariah Carey bahkan Bob Marley di toilet-toilet umum, kaki lima pasar tradsional, atau panti pijat. Mempertanyakan kenapa stereotif music akar rumput melekat pada dangdut jelas mempesona dan mengundang beragam jawab. Ketika dangdut hanya dianggap sebagai sebuah genre music, itu bukan masalah. Mendekatkan dangdut pada massa strata terbawah juga ada benar. Tetapi ketika mendeskreditkan dangdut adalah music kacangan dan menempatkan dia pada posisi music ecek-ecek, ini masalah bisa juga mengundang masalah. Apalagi memegang prinsip dangdut adalah lagu untuk orang miskin. Ini luar biasa_luar biasa ngawur.

Sejarah Awal

Bicara sejarahnya, Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di tanah air. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.

Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat bawah.

Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih dapat merasakan sentuhannya. Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan). Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India), Husein Bawafie sang pencipta Boneka dari India, Munif Bahaswan, serta M. Mashabi (pencipta skor film "Ratapan Anak Tiri" yang sangat populer di tahun 1970-an).

Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga 1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik Melayu yang dimotori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa jayanya.

Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, terompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser 'duel' antara Soneta Group dan God Bless. Praktis sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis bermusiknya.

Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).

Bangunan lagu

Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada lagu-lagu masa Melayu Deli (contoh: Burung Nuri). Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan birama. Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulangan. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda. Bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi.

Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik. Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

Setelah bagian kedua, lagu diulang penuh dari awal hingga akhir. Lagu dangdut diakhiri pada pengulangan bagian pertama. Jarang sekali lagu dangdut diakhiri dengan fade away.

Interaksi dengan musik lain

Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan mempengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.

Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin.

Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.
Memposisikan Dangdut

Sama seperti halnya Anda ke warung Padang, Jika anda beli rendang, teman satu lagi beli kikil, tak mungkin lah anda lalu menyimpulkan ia makan menu tak bermutu. Enggak logis banget. Sama seperti halnya dengan bermusik, jika suka dangdut tak bisa kita berfikir ini music rendahan banget. Its only about how to behave in difference!. Ini adalah sebuah perbedaan sahaja. Lalu karena berbeda lah, ada penyikapan secara adil dan proporsional terhadapnya.

Harus diakui, dangdut tak bisa dilepaskan dari tarian dan goyangan erotis, semisal polemik besar kebudayaan di Indonesia pada tahun 2003 akibat protes Rhoma Irama nya terhadap gaya panggung penyanyi dangdut dari Jawa Timur, Inul Daratista, dengan goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral". Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan. Baru baru ini Majelis Ulama Indonesia di berbagai daerah melarang beberapa penyanyi dangdut untuk mengisi acara pilkada.

Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari nafas ini. Fenomena ini yang menjadi salah satu penilaian rendahnya music dangdut.

Berbicara atraksi seni, pada music hip hop, juga dengan mudah ditemukan penyanyi yang vulgar, atraksi ngedance yang mengundang selera. Pada music lain juga kita masih bisa lihat dan saksikan penampilan artis yang seksi abis. Bahkan pada beberapa konser music pop atau rock, penonton ada yang tawuran, sampai bunuh membunuh. Ingat konser, music underground di Bandung beberapa waktu lalu yang memakan korban jiwa anak muda.

Harus ada penyamaan pemikiran dalam penilaian sebuah kreativitas seni. Menyamaratakan dangdut sebagai music katro dan tak layak adalah distorsi sebuah karya seni. Sungguh sebuah ketidak adilan yang sengaja dibiarkan tumbuh dan berkembang.
Isu Kapitalisme

Pernahkah anda berfikir, konsep image branding pada music dangdut seperti itu adalah bagian dari kampanye terselubung produser music luar ? melindas music local Indonesia agar karya music luar, hip hop, rock, reggae, punk, dkk itu laku dijual di pasar Indonesia. Pembiasan citra sengaja di setting dan ditanam sedari awal pada memori umat yang bernama Indonesia bahwa Dangdut itu Katro, Ngampung, ketinggalan zaman, gak Level dan sebagainya. Akhirnya, mereka yang berjiwa seni mencari alternative hiburan lain, yah ujung-ujungnya music seperti itulah..

Bukan menganggap music lain jelak atau tak bermutu, tapi ini bagian dari kampanye dari mencintai produk dalam negeri, membanggakan karya seni tanah air sendiri, bangga sebagai orang Indonesia. Sekali lagi, suka dengan music luar tak masalah, tapi lantas mendeskreditkan dangdut pada tempat terhina sungguh perbuatan tak berbangsa dan bertanah air. Adil lah dalam memandang music dangdut.
Akhirnya…

Jujurlah pada diri sendiri, meskipun anda tak suka dengan dangdut, pada hati kecil anda sebenarnya mengalir darah dangdut. Ketika pada suatu acara tertentu, sang penyanyi bergoyang dangdut, anda bisa jadi bergoyang juga menikmati alunan lagu hingga tak terasa berjoget asik bersama teman-teman seketika. Tak usah terkejut, karena ini reaksi alami normal. Yang tak berjoget, atau memalingkan muka, pada dasarnnya ia mengelabui hati. Suka atau tidak suka, ini fakta. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota_heeee_red.

Saya pernah punya teman. Semasa kuliah, ia tak suka dan mengaku roker sejati maklum pemain band. Tapi setelah beberapa tahun kemudian, ketika pada acara pernikahannya. Mereka mengundang organ tunggal, sang penyanyi berdendang dangdut, ia malah asik bernyanyi lagu Syahdu cip Rhoma Irama untuk istri tersayang, bergoyang pula tak terasa hingga sejumlah lagu berlalu, mereka malah larut dalam dentuman nada-nada dangdut. Asyik Bukan?.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar